SEKOLAH IBU BOGOR

redaksi November 27, 2019 0
SEKOLAH IBU BOGOR

Saat acara wisuda Sekolah Ibu Kota Bogor Angkatan II Tahun 2019, Ketua TP PKK Kota Bogor, Yane Bima Arya menyampaikan bahwa hidup adalah rangkaian dari masalah ke masalah, selesai satu masalah muncul yang lainnya, hingga nanti di akhir ada satu masalah yang tidak bisa dihindari, yakni kematian. Keberadaan Sekolah Ibu di Kota Bogor menurutnya, dalam rangka membekali para ibu di Kota Bogor dengan ilmu. Sebab, dengan ilmu semua bisa menghadapi dan menyelesaikan permasalahan tanpa harus mengedepankan kekerasan. “Jadi, kunci dari permasalahan adalah ilmu. Ilmu yang diberikan pengajar Sekolah Ibu Kota Bogor bukan untuk jangka pendek, tapi pertanggungjawaban ibu-ibu setelah diwisuda, pertanyaannya apakah bisa diimplementasikan untuk jangka waktu yang lama, karena hidup adalah sebuah pertanggungjawaban besar dihadapan Allah SWT,” tegas Yane Bima Arya di GOR Pajajaran, jalan Pemuda, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Selasa (26/11/2019).

Kepada semua yang hadir, Yane menyebutkan hidup adalah sebuah perjuangan. Bahkan, sejak dahulu Indonesia memiliki banyak pejuang perempuan yang dampak perjuangannya dapat dirasakan hingga saat ini, diantaranya Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Kartini hingga Rohana Kudus yang merupakan perempuan pertama yang membuat surat kabar tentang perempuan. Menurut Yane, saat ini para perempuan sedang menghadapi dan berjuang melawan tantangan zaman. Sebagai seorang ibu tantangan terbesar yang dihadapi adalah menghadapi suami dan anak-anaknya di rumah. “Para pejuang perempuan dahulu memiliki strategi untuk berjuang dalam menghadapi penjajah, demikian juga kita dalam menghadapi suami dan anak-anak. Strategi kita adalah mencintai mereka dengan tulus, mencintai tanpa batas dan memberikan pelukan yang erat bagi suami dan anak,” ungkap Yane.

Dalam pelaksanaan Sekolah Ibu yang dilakukan 20 kali pertemuan selama 3 bulan, lanjut Yane hanyalah stimulus bagi ibu-ibu dan tujuan Sekolah Ibu bukan hanya sebatas wisuda dan memakai kebaya putih.”Tapi pertanyaannya bisakah ibu-ibu mempertanggungjawabkan ilmu yang sudah diberikan para pengajar,” katanya. Untuk para pengajar yang memiliki ketulusan luar biasa, Yane menyampaikan apresiasi dan penghargaannya. Para pengajar bukan psikolog tapi selalu dicurhati peserta sekolah ibu dan bukan lembaga keuangan, tapi sering dipinjami uang para ibu-ibu sekolah ibu.”Dan hal ini menjadi cerita indah dibalik kebersamaan yang terjalin,” tuturnya.

Kepada semua yang hadir, Yane selaku Ketua TP PKK Kota Bogor menegaskan bersama seluruh jajaran PKK Kota Bogor akan terus berjuang agar sekolah ibu tetap ada di Kota Bogor. (Humpro:rabas/ismet/indra/arvan-SZ)

Leave A Response »